Subuh ini aku terbangun dengan senyum bulan menggantung pada selimut hitam
Mengiangkanku akan seulas senyummu saat kita bercengkerama dulu
Ya, senyuman sederhana di kala itu
Dan setiap gelak tawa yang terhambur terciprat lelucon yang kau lemparkan
Aku pun tersenyum
Pagi ini aku tertegun dengan rindang pohon yang kulalui di sudut jalan
Membawa memori kembali ke tempat itu
Tempat yang menyejukkan, tempat kita bersama, tempat kita saling berbagi dalam peduli
Dan kau tahu?
Aku rindu
Terik matahari sangat membakar sesiang ini, dan sama juga dengan siang – siang yang kita lalui dulu
Membuncah dalam kalbu setiap indah detik waktu yang berlalu
Sesiang itu, saat bersama di kantin, di lapbas, di sinom, di sekolah
Ya, sesiang yang selalu bermakna buatku karena kau selalu ada
Dan aku kembali harus berjalan
Sore ini, aku kembali lagi ke tempat yang buatku adalah rumah keduaku
Yah, mungkin hanya ingin melepas rindu pada suasana dan waktu yang telah berlalu
Dan kau pun ada di tempat ini, apakah tujuan kita sama?
Apakah sama rindu yang kita rasa?
Aku tak tahu, yang jelas aku selalu senang di kala kita bertemu
Mungkin sesaat bernostalgia dengan masa lalu apa perlu?
Aku tak tahu
Karena jelas buatku, waktu bersamamu adalah layaknya emas di kala senja
Layaknya tetes embun yang sejuk di pagi hari
Layaknya rindang pohon yang menaungi di kala siang
Dan seindah rembulan yang selalu bersinar pada waktu malam
Kau tahu?
Karena kau adalah sahabatku
Tampilkan postingan dengan label sebatas curahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sebatas curahan. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 Agustus 2011
Selasa, 28 Juni 2011
Jodoh Itu . . . . .
“Terus, kalau misalnya nggak jadi sama dia, kamu bakal gimana, Much?”
Entah sudah berapa kali pertanyaan itu terlontar dari teman – temanku. Seperti biasa, pertanyaan seputar akhwat idaman untuk seorang pendamping hidup. Dan aku sendiri pun kadang bingung, teman – teman sering menjadikanku sebagai tempat curhat masalah kegalauan hati karena ada akhwat yang memenuhi pikiran, padahal aku pun sering mengalami masalah yang sama. Apa mereka berpikir bahwa aku ini sudah mantap dengan pilihanku? Padahal aku sama sekali tidak mengatakan akan segera mengkhitbah akhwat manapun. Ya ampun.
“Wah, kok tanyanya bakalan gimana? Jelas dong, ikhlaskan saja. Hlawong sudah jadi punyanya orang lain kok. Masa’ mau diminta?” jawabku sambil lalu saja dan kuambil majalah terbitan Rohis SMA bulan ini dari rak masjid sekolah di dekatku.
Minggu, 12 Juni 2011
Malam Itu - cerita yang lain
Resi tidak lagi takut.
Takut tentang keburukan sikapnya yang telah merusak hati wanita itu. Resi tahu wanita itu telah tahu. Tahu tentang rasa yang telah tumbuh dan mulai layu. Rasa yang layu karena tidak terjaga dan terpupuk dengan baik.
Dan kini rasa itu Cuma menjadi bongkahan kecil dalam hati. Bongkahan yang sebenarnya berharga. Hanya saja Resi lupa. Lupa seberapa harga bongkahan itu. Lupa bagaimana niatannya dulu saat bongkahan itu cuma tergeletak di sudut ruang hatinya. Namun, Resi telah sadar. Resi menempatkan bongkahan itu dalam sebuah kotak mungil bertatahkan emas. Cukup kecil saja, kata Resi.
Karena sekarang Resi telah sadar. Bahwa kotak yang lebih besar adalah hak untuk seorang wanita. Hak untuk semua memori dan cerita yang akan tersimpan. Semua memori dan cerita bersama wanita yang akan menemani sisa hidupnya. Dalam sebuah berkah.
Senin, 06 Juni 2011
Sajak Bisu Merpati
Kau mungkin tidak tahu.
Bahwa aku tidak pernah jatuh tanpa tidak memikirkanmu.
Bahwa aku tidak pernah nyenyak tidur saat kau sedang gundah.
Bahwa aku tidak pernah mengecap nikmat sajian dunia jika kau sendiri lupa untuk menarik napas sejenak.
Kau mungkin tidak tahu.
Seberapa keringat yang aku rampas untuk sekedar tahu bagaimana kabarmu.
Seberapa harga yang aku beri untuk melihat teduh matamu.
Seberapa besar hatiku saat aku tahu bahwa kau sedang tersenyum.
Kau mungkin tidak tahu.
Bagaimana hatiku bertransformasi menjadi puing – puing saat aku tahu aku telah menyakitimu.
Bagaimana otakku terus berputar ketika aku tahu kau sedang dalam kebingungan.
Bagaimana aku ingin mendekapmu di saat kau rapuh.
Kau mungkin tidak tahu.
Sabtu, 04 Juni 2011
Malam Itu
Malam itu seperti biasanya. Selimut langit yang hitam berhiaskan indah bintang dan senyuman rembulan. Malam itu seperti biasanya, aktivitas sudah terlihat lengang karena orang – orang mulai kembali ke peraduannya, menjelajah alam mimpi. Malam itu seperti biasanya, Resi duduk di atap rumahnya, merenung.
Malam itu seperti biasanya. Ia berbicara dengan dua temannya di depan pos satpam sekolahnya dulu. Tidak bisa dilukiskan seperti apa warna hati Resi pada malam itu. Sebuah fakta yang pahit menjangkau permukaan dan menampar dirinya dengan keras. Dan Resi merasa sangat bodoh. Malam itu seperti biasanya, hanya saja terpaut oleh puluhan ribu detak waktu yang telah berlalu.
“Huft, salahku ya? Kenapa tidak sadar lebih awal? Kenapa juga aku tidak berusaha memperbaiki diri?” ia bertanya lagi pada dirinya. Dan entah sudah berapa kali pertanyaan yang sama memenuhi sunyi malam itu.
Dan entah sudah berapa kali benak Resi berjalan kembali ke masa malam itu.
“Mas itu sebenarnya baik kok, cuma mungkin kebiasaan mas kadang tidak pas. Dan itulah yang menyebabkan dia merasa sebal sama mas.”
“Kalau menurutku sebaiknya mulai sekarang kamu lebih berpikir lagi sebelum bertindak, Res. Karena kamu tidak akan pernah tahu akibat dari tindakanmu, kan?”
Selama ini, Resi tidak pernah merasa takut berbicara tentang mimpi karena ia selalu percaya semakin banyak orang yang tahu semakin banyak pula doa yang terucap. Dulu, saat masih duduk di bangku SMP, ia selalu bercerita tentang mimpi untuk melanjutkan sekolah di salah satu SMA favorit di kota. Mimpi itu pun menjadi kenyataan. Dan saat SMA, Resi tidak pernah ragu untuk bercerita tentang mimpi untuk melanjutkan studi ke salah satu perguruan tinggi ternama. Mimpi itu pun kembali menjadi kenyataan.
Dan malam ini, ada satu mimpi yang menjadi sumber renungan Resi. Mimpi ini adalah mimpi Resi tentang hati. Tentang separuh agama yang harus dilengkapi. Tentang sebuah keluarga. Mimpi Resi ini adalah mimpi tentang seorang wanita.
Hapusan Kalbu Pada Waktu
Terkuak memori indah masa – masa terbuai
Silaukah mata batin yang kau buka dulu?
Sehingga lupa kau melihat seperti apa aku
Usahlah kau ada selalu di sisi
Urung aku di sini tak menanti
Bahwa hati ini tak akan tertaut ke lain kalbu
Bumikan rasa hati terbangkan jiwa ke langit biru
Senin, 30 Mei 2011
Sonata Paradoks
cuma kata serangkai yang tak terucap
jujur cuma hatiku berbisik
sayang dusta lidahku menari
mungkin
wajahmu yang kudamba
pada tiap muka kulewati
pada jengkal tapak kujejaki
mungkin
hatiku tercuri
pada alunan melodimu tergerai
pada sayup bulir airmu menderai
Sabtu, 21 Mei 2011
Sonata Langit Malam
Temaram
Mengundang gelap tertumbuh kelam
Tanpa bintang berselimut kabut silam
Sayu lampu cuma geram
...Terhampar
Karpet Hitam pada satu bumi
Menutup lukisan gemerlap tercipta
Menyajikan cekaman menenangkan
Cuma terasa kecil
Di sebuah galaksi hitam
Mengingat sebuah cahaya akan datang
Menunggu dalam langit malam
Sonata Langit Malam23 April 2011 00:36
Selasa, 17 Mei 2011
Sesungguh Hati
Habiskah ruang?
Sudah hati ini terjatuh dari terang?
Meninggal lubang dalamnya jurang
Kala hangat lupa memeluk dingin bayang
Semurah itu arti?
Kenapa tak tertemu sebuah sejati?
Bahkan setelah lama tertanam pada diri
Apakah luka diri akan selalu terpatri?
Lalu ironis?
Kala palsu di dalam menjadi bengis
Tandus mata tak tertangis
Bahkan setalah kering hati ini dikais
Mahalkah sebuah paham?
Karena hati ini telah melegam?
Atau selimut ini terlalu kelam?
Untuk sekedar membuncah nikmat kalam
Sesungguh Hati
17 Mei 2011
22:55
Sonata Kalbu Abu Abu
saat rasa yang mengkotori hati
tak lelah melelahkan
satu hati yang sedang rentan
salahkah tanyaku
saat tak lagi hatiku mampu
menali kekang panas amarah
kala terbakar diriku dalam gundah
Senin, 16 Mei 2011
Sonata Hujan Petir dan Rembulan
bahkan tanpamu, rembulan
tetap akan terlihat bersinar
langit malam yang tercoreng oleh sekilat petir
tapi engkau hadir, rembulan
menodai sebuncah yang petir cipta
menawan karsa terbungkus dalam indah
menjebak waktu dalam sebuah bayang
merangkai manusia dalam abstraksi karsa
'kah dirimu datang, rembulan?
saat selimut gelap tergerai
kala sinar tak kuasa menerpa
waktu hati tenggelam hitam fana
Sonata Hujan, Petir, dan Rembulan
17 April 2011
20.59
MUAK
Jujur. Sebenarnya tulisan kali ini tidak saya buat dalam keadaan ingin menullis sesuatu atau ingin mencurahkan sesuatu.
Lebih tepatnya, saya sedang muak. Muak dengan keadaan lingkungan sekitar saya. Muak dengan lingkungan kampus. Muak dengan orang – orang di sekitar saya, dan mungkin anda yang membaca tulisan ini pun turut dalam "orang – orang" yang saya sebut di atas.
Ah sudahlah. Anda boleh tersinggung dan saya tidak mempermasalahkan apa yang anda rasakan. Toh apa anda peduli?
Anda mungkin akan bilang orang seperti saya ini kekanak – kanakan, childish, pembual, penggerutu, atau apalah yang cocok menurut anda. Lalu apa anda tidak? Apa anda merasa tidak pernah merasakan apa yang saya rasakan sekarang ini? Pasti anda tidak mau dikatakan munafik jadi pasti anda akan menjawab seperti ini : "tentu saya pernah, tapi dengan satu dan dua cara saya bisa mengatasi situasi seperti yang anda alami"
Anda tahu? Jawaban seperti itu lah yang membuat saya lebih muak lagi.
Anda mau tahu kenapa?
Lebih tepatnya, saya sedang muak. Muak dengan keadaan lingkungan sekitar saya. Muak dengan lingkungan kampus. Muak dengan orang – orang di sekitar saya, dan mungkin anda yang membaca tulisan ini pun turut dalam "orang – orang" yang saya sebut di atas.
Ah sudahlah. Anda boleh tersinggung dan saya tidak mempermasalahkan apa yang anda rasakan. Toh apa anda peduli?
Anda mungkin akan bilang orang seperti saya ini kekanak – kanakan, childish, pembual, penggerutu, atau apalah yang cocok menurut anda. Lalu apa anda tidak? Apa anda merasa tidak pernah merasakan apa yang saya rasakan sekarang ini? Pasti anda tidak mau dikatakan munafik jadi pasti anda akan menjawab seperti ini : "tentu saya pernah, tapi dengan satu dan dua cara saya bisa mengatasi situasi seperti yang anda alami"
Anda tahu? Jawaban seperti itu lah yang membuat saya lebih muak lagi.
Anda mau tahu kenapa?
Minggu, 24 Oktober 2010
Angan - Angan
Entah kenapa kepikiran untuk nulis lagi. Awalnya sih lagi liat foto-foto waktu maen di depok, sundak, dan suing. Terus malah kepikiran ngeliat gambar-gambar yang aku kopi dari temen. Gambarnya bagus, bagus banget malah. Membuatku berdecak kagum, membuatku bersyukur masih diberi kenikmatan bisa melihat ciptaan-Nya yang indah.
Senin, 02 November 2009
Isi Hati
sakit. .
hati ini teriris sakit
entah kenapa setiap kata itu begitu menggigit
dan tanpa kusadari hatiku telah terjepit. .
bodohnya aku, .
terus menunggu tanpa tahu
sperti apa bentuk hatimu
yang terus aku rindu
kenapa aku?
kurang mengekang napsu?
atau hanya lekas ingin tahu?
bahkan untuk mengunkap pun tak mau
hati ini teriris sakit
entah kenapa setiap kata itu begitu menggigit
dan tanpa kusadari hatiku telah terjepit. .
bodohnya aku, .
terus menunggu tanpa tahu
sperti apa bentuk hatimu
yang terus aku rindu
kenapa aku?
kurang mengekang napsu?
atau hanya lekas ingin tahu?
bahkan untuk mengunkap pun tak mau
Senin, 19 Oktober 2009
mungkin sedang gundah
mungkin hanya orang bodoh yang merasa seperti ini
cuma terus memberi tanpa harap balas
cuma terus menunggu tanpa tahu kapan waktu akan datang
cuma terus menanti untuk sesuatu yang tak bisa dicari
segitu bodohkah aku?
hanya memberi dengan tulus
hanya menunggu dengan sabar
hanya menanti bahkan untuk waktu yang tak sebentar
cuma terus memberi tanpa harap balas
cuma terus menunggu tanpa tahu kapan waktu akan datang
cuma terus menanti untuk sesuatu yang tak bisa dicari
segitu bodohkah aku?
hanya memberi dengan tulus
hanya menunggu dengan sabar
hanya menanti bahkan untuk waktu yang tak sebentar
Langganan:
Postingan (Atom)





