Tampilkan postingan dengan label sebuah kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sebuah kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2011

Sang Perentang

Lembar layar terkembang
Mengantar sunyi dengan sentuhan lembut
Kala tirai kelam menggantung langit
Membekap dingin tanpa sebuah welas


Dan pada ombak hitam
Tersimpan padanya sejuta rahasia dunia
Apakah layar gentar
Pada penyimpan rahasia dia bergantung


Kala jaring terbentang
Menangkap dingin pada hitam tak berujung
Berharap pada penyimpan rahasia
Sepercik nikmat dari kubangan dunia


Lalu sang perentang terdiam
Terpekur di dalam sebuah sujud
Mengharap berkah dari sepercik
Untuk hidup

Sang Perentang
7 September 2011
17:11

Senja Pertama di Bulan September

Yang akan aku rindu
Senja pertama di bulan September
Seperti buket bunga pelangi
Mewarna sejuta indah pintu langit


Yang tak akan kulupa
Senja pertama di bulan September
Dalam naungan bayang kota lama
Aku meniti hapusan cerita terukir


Yang akan kubingkai emas
Senja pertama di bulan September
Senyuman goresan bulan
Lalu damai, dingin, dan putih


Yang menjadi memori, membunuh bagai candu
Senja pertama di bulan September
Dan semua tak lagi menjadi sepadan
Malam tidak lagi mempunyai bulan

Senja Pertama Di Bulan September
15 September 2011
17:50

Senin, 29 Agustus 2011

Satu Hari Memori

Subuh ini aku terbangun dengan senyum bulan menggantung pada selimut hitam
Mengiangkanku akan seulas senyummu saat kita bercengkerama dulu
Ya, senyuman sederhana di kala itu
Dan setiap gelak tawa yang terhambur terciprat lelucon yang kau lemparkan
Aku pun tersenyum

Pagi ini aku tertegun dengan rindang pohon yang kulalui di sudut jalan
Membawa memori kembali ke tempat itu
Tempat yang menyejukkan, tempat kita bersama, tempat kita saling berbagi dalam peduli
Dan kau tahu?
Aku rindu

Terik matahari sangat membakar sesiang ini, dan sama juga dengan siang – siang yang kita lalui dulu
Membuncah dalam kalbu setiap indah detik waktu yang berlalu
Sesiang itu, saat bersama di kantin, di lapbas, di sinom, di sekolah
Ya, sesiang yang selalu bermakna buatku karena kau selalu ada
Dan aku kembali harus berjalan

Sore ini, aku kembali lagi ke tempat yang buatku adalah rumah keduaku
Yah, mungkin hanya ingin melepas rindu pada suasana dan waktu yang telah berlalu
Dan kau pun ada di tempat ini, apakah tujuan kita sama?
Apakah sama rindu yang kita rasa?
Aku tak tahu, yang jelas aku selalu senang di kala kita bertemu
Mungkin sesaat bernostalgia dengan masa lalu apa perlu?

Aku tak tahu
Karena jelas buatku, waktu bersamamu adalah layaknya emas di kala senja
Layaknya tetes embun yang sejuk di pagi hari
Layaknya rindang pohon yang menaungi di kala siang
Dan seindah rembulan yang selalu bersinar pada waktu malam

Kau tahu?
Karena kau adalah sahabatku

Selasa, 28 Juni 2011

Jodoh Itu . . . . .

“Terus, kalau misalnya nggak jadi sama dia, kamu bakal gimana, Much?”

Entah sudah berapa kali pertanyaan itu terlontar dari teman – temanku. Seperti biasa, pertanyaan seputar akhwat idaman untuk seorang pendamping hidup. Dan aku sendiri pun kadang bingung, teman – teman sering menjadikanku sebagai tempat curhat masalah kegalauan hati karena ada akhwat yang memenuhi pikiran, padahal aku pun sering mengalami masalah yang sama. Apa mereka berpikir bahwa aku ini sudah mantap dengan pilihanku? Padahal aku sama sekali tidak mengatakan akan segera mengkhitbah akhwat manapun. Ya ampun.

“Wah, kok tanyanya bakalan gimana? Jelas dong, ikhlaskan saja. Hlawong sudah jadi punyanya orang lain kok. Masa’ mau diminta?” jawabku sambil lalu saja dan kuambil majalah terbitan Rohis SMA bulan ini dari rak masjid sekolah di dekatku.

Minggu, 12 Juni 2011

Malam Itu - cerita yang lain

Resi tidak lagi takut. 

Takut tentang keburukan sikapnya yang telah merusak hati wanita itu. Resi tahu wanita itu telah tahu. Tahu tentang rasa yang telah tumbuh dan mulai layu. Rasa yang layu karena tidak terjaga dan terpupuk dengan baik. 

Dan kini rasa itu Cuma menjadi bongkahan kecil dalam hati. Bongkahan yang sebenarnya berharga. Hanya saja Resi lupa. Lupa seberapa harga bongkahan itu. Lupa bagaimana niatannya dulu saat bongkahan itu cuma tergeletak di sudut ruang hatinya. 

Namun, Resi telah sadar. Resi menempatkan bongkahan itu dalam sebuah kotak mungil bertatahkan emas. Cukup kecil saja, kata Resi. 

Karena sekarang Resi telah sadar. Bahwa kotak yang lebih besar adalah hak untuk seorang wanita. Hak untuk semua memori dan cerita yang akan tersimpan. Semua memori dan cerita bersama wanita yang akan menemani sisa hidupnya. Dalam sebuah berkah.

Sabtu, 04 Juni 2011

Malam Itu

Malam itu seperti biasanya. Selimut langit yang hitam berhiaskan indah bintang dan senyuman rembulan. Malam itu seperti biasanya, aktivitas sudah terlihat lengang karena orang – orang mulai kembali ke peraduannya, menjelajah alam mimpi. Malam itu seperti biasanya, Resi duduk di atap rumahnya, merenung.

Malam itu seperti biasanya. Ia berbicara dengan dua temannya di depan pos satpam sekolahnya dulu. Tidak bisa dilukiskan seperti apa warna hati Resi pada malam itu. Sebuah fakta yang pahit menjangkau permukaan dan menampar dirinya dengan keras. Dan Resi merasa sangat bodoh. Malam itu seperti biasanya, hanya saja terpaut oleh puluhan ribu detak waktu yang telah berlalu.

“Huft, salahku ya? Kenapa tidak sadar lebih awal? Kenapa juga aku tidak berusaha memperbaiki diri?” ia bertanya lagi pada dirinya. Dan entah sudah berapa kali pertanyaan yang sama memenuhi sunyi malam itu. 

Dan entah sudah berapa kali benak Resi berjalan kembali ke masa malam itu.

“Mas itu sebenarnya baik kok, cuma mungkin kebiasaan mas kadang tidak pas. Dan itulah yang menyebabkan dia merasa sebal sama mas.”

“Kalau menurutku sebaiknya mulai sekarang kamu lebih berpikir lagi sebelum bertindak, Res. Karena kamu tidak akan pernah tahu akibat dari tindakanmu, kan?”

Selama ini, Resi tidak pernah merasa takut berbicara tentang mimpi karena ia selalu percaya semakin banyak orang yang tahu semakin banyak pula doa yang terucap. Dulu, saat masih duduk di bangku SMP, ia selalu bercerita tentang mimpi untuk melanjutkan sekolah di salah satu SMA favorit di kota. Mimpi itu pun menjadi kenyataan. Dan saat SMA, Resi tidak pernah ragu untuk bercerita tentang mimpi untuk melanjutkan studi ke salah satu perguruan tinggi ternama. Mimpi itu pun kembali menjadi kenyataan.

Dan malam ini, ada satu mimpi yang menjadi sumber renungan Resi. Mimpi ini adalah mimpi Resi tentang hati. Tentang separuh agama yang harus dilengkapi. Tentang sebuah keluarga. Mimpi Resi ini adalah mimpi tentang seorang wanita.

Senin, 16 Mei 2011

Ketika Bumi Mengeluh

Bumi mengeluh. Namun, bukan karena umurnya yang sudah berjuta – juta tahun. Bumi mengeluh. Beberapa tahun ini dia didaulat Allah untuk sedikit memberantakkan dirinya. Bumi patuh saja. Sudah beberapa kali dia membuat berantakan dirinya. Dia mengibaskan ombak di lautan yang tenang dan membuat samudera beriak dan beberapa kali timbul tsunami. Dia berulang – ulang menggoyang tubuhnya dan menciptakan gempa. Sering dia meniup angin yang tenang sehingga terjadi badai dan angin rebut. Berkali – kali juga dia bermain dengan gunung – gunung berapi di kulitnya, membuat mereka meletus di sana – sini. Bumi mengeluh karena capai memberantakkan dirinya? Ternyata tidak.

Bumi senang – senang saja memberantakkan dirinya. Dia merasa terlalu anteng beberapa milenium ini. Namun, dia mengeluhkan manusia. Manusia? Kenapa bumi mengeluhkan manusia?


Suatu hari bumi berkesempatan untuk berbincang – bincang dengan Allah.


"Ya Allah. Maafkan hamba-Mu ini jika hamba lancang. Namun, bolehkah hamba mengajukan pertanyaan kepada-Mu Rabbku Yang Maha Mengetahui segala sesuatu?"


2 Suara

"Tak berguna kau terus ada di sini!!" suara itu menggema di kepalaku. "Masih saja kau berharap?!Tak ada guna!!Cuma buang–buang waktu!!" suara yang lain mengiang menyahut. Aku cuma bisa bungkam, menertawakan diriku sendiri dalam hati. Sekelebat memori masa lalu yang pahit kembali lagi melintas di jalan ingatanku. Sungguh pahit.
***
Aku duduk lagi di tempat yang sama, menikmati indahnya langit Wirobrajan dari atap masjid Al Uswah. Termenung. Aku ingat lagi suara–suara itu. Keras pikirku tentang siapa mereka. Lucu, aku bahkan lupa sejak kapan 2 suara itu mulai menggaung di kepalaku. Memang saat awal mereka 'muncul', mereka menjadi teman ngobrol yang baik, tapi lama kelamaan mereka mulai mempengaruhiku, mengingatkanku tentang masa lalu yang tak pernah ingin kuingat lagi.


"Mas Sya'ban!!!"


DEG!Hampir saja aku jatuh dari tempatku duduk, tempat favoritku saat melamun di atap, di pinggir atap yang menghadap ke tempat parkir SMA 1. Kucari sumber suara itu, dan ternyata dari tempat parkir. Di sana seorang akhwat berdiri sambil berkacak pinggang.


"Ngelamun lagi nih, Mas?" tanya akhwat itu


Dengan jilbab lebar dan besar dan tak lupa seragam khas SMA 1, Wiji berdiri di depan gang kecil menuju masjid sambil memandang ke arahku.


"Woi, ditanyain juga. Malah diem lagi. Hampir jatuh tuh tadi. Makanya kalo ngelamun jangan 
kebablasan."


"Enak aja. Yang bikin aku hampir jatuh ya kamu itu. Orang lagi enak duduk malah diteriakin."


Wiji ini anak kelas X. Orangnya memang agamis tapi kelakuannya bisa dibilang tomboi juga. Walaupun tomboy, entah kenapa aku bisa melihat keanggunan dari akhwat ini. Ck, berpikir apa aku ini? "Jaga hati boy!" kataku pada diriku sendiri. Tapi kadang aku juga berpikir, kalau aku diberi kesempatan keliling dunia, orang aneh jenis apalagi yang akan kutemui. Di sekolah ini saja sudah banyak, bagaimana kalau di luar sana?


"Ngapain tadi kamu manggil, Wij?" tanyaku


"Nggak ada apa – apa sih, Mas. Cuma iseng aja nggangguin orang yang lagi ngelamun, hehe." balasnya sambil terkekeh.


"Weleh, ya udah. Hus hus sono pergi pergi. Ganggu orang aja."


"Yeee, malah ngusir nih. Ya udah, hmph." balasnya sambil memalingkan muka dan menghilang ke dalam gang.

Rabu, 14 April 2010

masa kecil

Ndak tau kenapa, malam ini jadi teringat masa kecil dulu di lombok. Yah, bisa dibilang, masa aku lahir, masa aku tumbuh (emang cuma sampe umur 7 tahun sih di sana hehe). Jadi inget dulu di sana seneng banget maen ke lapangan deket mesjid pagutan sama temen – temen, pit2an sampe kluar kompleks, njelajah sawah juga weheheheh. Juga TPA dulu, kalo inget dulu bikin senyam senyum sendiri. Ipung, jaka, santi, leni, dan winda.

Entah kenapa cuma nama itu yang masih ada di memori dan kenanganku. Ipung, orangnya pinter banget di kelas, hobi banget nggambar ultraman waktu itu. Orang yang pertama kupanggil “kakak”. Yah bisa dibilang orang pertama yang mendampingi aku sebagai seorang teman. Jaka, kocak anaknya, walopun gak sepinter ipung tapi dia tau gimana cara ngomong, dan gimana harus bersikap. Jadi inget dia dulu juga pernah dioperasi, ditempel platina di paha kanan (kalo nggak salah nih ^^v) karena kecelakaan. Orang yang juga manggil ipung “kakak” dan aku juga manggil dia “kakak”.