Tampilkan postingan dengan label sebuah pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sebuah pemikiran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Oktober 2011

Pertanyaan Sang Maut

Apa perlu manusia?
Kubawakan lilin - lilin kepadamu
Redup, menyala dengan setali bara
Lalu lenyap, membawa gelap dalam segenggam semu


Apa perlu manusia?
Kuhadirkan kau pada hutan – hutan merah
Layu, mengharap sewelas dari fana
Dan akar pun tenggelam daun, menjadi tanah


Apa perlu manusia?
Kuberikan tanganmu waktu
Tak akan kau rasa sebuah bernama usia
Dan matamu bersaksi atas kefanaan yang terbuang, semu


Apa perlu manusia?
Kudatangkan kau pada saudara – saudara sekarat
Yang merengek, menangis, meminta pada dunia
Dan yang bersyukur, merindu pada Cinta Sejati, pada akhirat


Apa perlu manusia?
Kuhadiahi kau satu bernama abadi
Dan sesekali kau merasa senang atas fana
Lalu dunia, mempuisikan kau dalam sepi


Apa perlu manusia?
Aku sendiri menyapamu dalam keseharian
Mengingatkanmu, menasihatimu, memelukmu sebentar saja
Bahwa aku merindumu, dalam dekapan kafan

Pertanyaan Sang Maut
3 Oktober 2011
22:40

Jumat, 21 Oktober 2011

Di Mana Sandangku?

di mana sandangku?
lupakah aku memakai satu?
pun dera tak berwelas
memutar lagi yang terbias


di mana sandangku?
hujam kejam idiom kaku
meluka kalbu tak berparas
dan tercecer, hapuslah bekas


di mana sandangku?
seperti penjaja saja aku
pada hati - hati ganas
bernafsu selaksa tetas


di mana sandangku?
di mana hidupku?
sudah tak ada berbelas?
atau cuma tak berbalas?


Di Mana Sandangku?
11 September 2011
11:50

Senin, 27 Juni 2011

Dalam Prasangka

Kadang kau salah
Mengartikan satu wajah
Di kacamu terpancar sebuah lelah
Isi hati sebenar tabah


Kadang kau ragu
Sangka tetes embun itu ciu
Terbiaskan satu sebuah ambigu
Membunga nista di buket rancu


Kadang kau benar
Tuk membanjir lesung dalam nanar
Melayar agung suci berbinar
Karna kargo benar terkumpul tak buyar

Minggu, 12 Juni 2011

Bahwa

Bahwa di dalam diriku
Aku selalu lupa melihat
Sajak – sajak kosong
Terlupa telah terbuang Cuma


Bahwa di sekitar aku
Tidak lagi pernah mendengar
Sentuhan jiwa yang hangat
Cuma ingin yang terkotori


Bahwa sebuah dunia tempatku
Aku tidak lagi merasa
Kebaikan – kebaikan terikat
Tinggal ceceran harapan semu

Sabtu, 04 Juni 2011

Masalah Pilihan


Pernah dihadapkan pada sekelompok pilihan di saat yang bersamaan? Saat kita harus memilih salah satu dari sekian banyak pilihan yang tersedia, dan pilihan – pilihan itu cuma tersedia saat itu? Atau pernah mendapat amanah yang berjubel beserta tuntutan amanah tersebut untuk segera dipenuhi yang kadang membuat kita pusing menentukan prioritas? Atau pernah kita berhadapan dengan pilihan yang akan menentukan bagaimana hidup kita akan berjalan? Suatu pilihan yang nantinya akan berdampak besar bagi diri kita?

Saya yakin. Jawaban pernah akan terucap dari mulut kita saat ditanya seperti itu.

Namun, pernahkah kita berpikir?

Akan selalu ada kebaikan yang datang dari setiap pilihan yang kita ambil.

Masalah kebaikan itu akan datang mengambil bentuk apa, kita memang tidak akan pernah tahu.

Contoh saja, beberapa minggu yang lalu saya sudah berjanji kepada kabid Infomed IMMSI untuk ikut dalam LDK terakhir IMMSI sebelum masa kepengurusan berakhir pada hari sabtu dan minggu. Namun, menjelang hari keberangkatan, saya malah dibuat galau dengan adanya tugas dari dosen yang mendesak untuk diselesaikan. Sesiang itu, akhirnya saya izin pada Kabid dengan alasan ada tugas dari dosen yang mendesak untuk segera diselesaikan. Tentu ada rasa tidak enak di hati, apalagi saya juga tidak pernah ikut acara tersebut. Dan ternyata dengan saya tidak ikut pun, tugas tersebut tidak bisa selesai pada waktunya.
*infomed IMMSI adalah bagian informasi dan media Ikatan Mahasiswa Muslim Akuntansi

Namun, ternyata kebaikan dari pilihan saya itu datang juga. Pada sabtu malam, saya membuka grup Katy All Years di jejaring sosial facebook. Rupanya ada post yang berisikan pembahasan mengenai kedatangan adik – adik SMA N 1 Yogyakarta yang baru saya mengikuti ICYS di Rusia dan dijadwalkan datang hari minggu sore di bandara Soekarno - Hatta. Dan ternyata guru Pembina yang bertugas untuk menjemput mereka berhalangan hadir. Akhirnya, saya memberanikan diri jadi relawan untuk menjemput mereka untuk diantar ke rumah salah satu alumni SMA 1 di daerah Bintaro, walaupun saya sendiri tidak pernah ke bandara Soekarno – Hatta. Dan Alhamdulillah, mereka berdua pun dapat diantarkan dengan selamat sampai tempat persinggahan di Bintaro.

Dan selain itu, pada sabtu malamnya juga. Ada seorang teman yang datang ke kos. Ada perlu untuk curhat rupanya. Alhamdulillah, saya dapat menjadi pendengar yang baik dan sedikit banyak dapat memberi solusi untuk beliau.

Contoh di atas cuma berupa contoh kecil betapa Dia tidak akan menyia – nyiakan pilihan hamba – Nya yang dibuat dalam kebaikan.

Dan dengan membuat sebuah pilihan, kita tidak hanya belajar tentang berharganya setiap momen dalam hidup, tetapi juga menyadarkan kita bahwa tidak semua pilihan dapat kita ambil walaupun pilihan tersebut baik.

Memang, kita akan pusing menentukan prioritas jika itu tentang amanah. Namun, kenapa kita tidak bisa dengan mudah percaya bahwa Dia akan menunjukkan pada kita kebaikan dari prioritas yang kita ambil?

Bahkan saat pilihan itu menjadi sesuatu yang pahit. Bahkan saat pilihan itu menjadi sesuatu yang membuat kita bersedih. Bahkan saat pilihan itu akan membuat kita kehilangan. Percayalah bahwa selama pilihan itu kita buat dalam kebaikan, kebaikan dari pilihan itu akan datang dan membuat kita tersenyum.

Karena Dia selalu mengetahui apa yang dibutuhkan hamba – Nya. Karena Dia akan selalu adil pada hamba – Nya yang bisa berlaku adil.

Senin, 30 Mei 2011

C.I.N.T.A.

Cinta itu bukanlah seperti remaja yang sedang mengeja rasa. Dan, jangan sesekali menyederhanakannya dengan mengatakan bahwa ia hanya layak untuk menjadi bagian dari sebuah cerita belaka, seperti yang dipaksakan ada dalam telenovela. Hari ini, ternyata kita sedang tidak lagi bisa merasa bangga untuk berbicara tentang cinta. ya, karena kita sudah mabuk dalam wacana-wacana yang kita pandang lebih berguna. Obrolan politik terlihat lebih sempurna untuk menjadi bagian dari diri kita sejati, entah agar kita bisa lebih terpublikasi dengan berharap bisa membuat tertekuk para bidadari.

Kita telah begitu mendewakan kedewasaan. Sehingga merasa tidak perlu lagi mengupas cinta. Ah, entahlah. Akupun tidak berani mengatakan itu sebagai sebuah ketololan, kawan.

Aku tercenung sembari mencoba untuk merenung. Apakah aku yang telah gila untuk memaksa bicara tentang cinta. Tapi, bukankah memang cinta menjadi obat mujarab yang takkan pernah bisa diramu para tabib untuk mengobati derita. Aku melihat wajah-wajah derita di kota-kota. Membaca cerita tentang orang-orang yang menderita di berita-berita media. Bukankah itu semua bisa tertanggulangi dengan cinta?

Aku hanya bicara dengan semua yang telah kupercaya. Karena saya percaya ini cinta masih lebih berharga dari logika yang dipaksakan ke dalam beribu kata.

Mari pelajari cinta dengan sepenuh rasa, hingga ia kuasa menepis segala cerita durja. Musnah segala logika-logika yang justru membuat manusia semakin nista.

-Dikutip dari http://umum.kompasiana.com/2009/09/18/dalail-cinta/ oleh Zulfikar Akbar-

Kebetulan sedang browsing dan dapat tautan artikel di atas. Setelah dibaca, artikel di atas membuat saya berpikir. Belajar tentang cinta? Tidak perlu belajar tentang cinta pada pujangga – pujangga yang pintar merangkai kata, pada aktor panggung yang lihai berkata – kata, atau pada orang tua yang telah lama menjalani hubungan rumah tangga. Kenapa? Karena kita mempunyai Dia Yang Maha Mencintai. Dia yang selalu mencintai manusia, bahkan saat manusia itu kufur terhadap-Nya. Nikmat-Nya selalu dikucurkan pada manusia dan Dia tidak melihat apakah manusia itu beriman atau ingkar pada-Nya.

Selasa, 17 Mei 2011

Seharusnya

Baru kemarin pagi saat saya memacu sepeda motor melintasi kota Jogjakarta. Terasa beda antara hidup di sini dengan di kos perjuangan sana. Ah, tentang hidup berarti tentang dunia juga.

Entah dengan anda, tapi saya sendiri berpendapat dunia ini selalu penuh peraturan. Tak perlu menyebut bentuk dan jenis peraturan tersebut, karena saya rasa kita sudah sama – sama mengerti.

Berbicara tentang peraturan berarti juga berbicara tentang cita – cita yang ingin dicapai manusia. Tanpa anda sadari, anda telah membuat peraturan sendiri kepada diri anda. Bangun jam sekian, berangkat kantor jam sekian, pulang jam sekian, bersih – bersiih rumah hari libur, jalan – jalan di akhir di minggu dan sebagainya.

Ah, betapa manusia ingin sekali menjalankan hidup ini, dunia ini seperti seharusnya yang manusia inginkan. Semua kebutuhan tercukupi, keselamatan terjamin, masa depan cerah, keluarga yang bahagia dan berkah, 
dan masih banyak lagi hal – hal yang manusia inginkan seharusnya terjadi.

Senin, 16 Mei 2011

Kemudahan dan Kesusahan

Pasti akan sangat menyenangkan jika hidup kita selalu dipenuhi dengan kemudahan. Karena memang sudah hakikat manusia untuk bergerak seefisien mungkin, kita akan selalu berpikir untuk mencari kemudahan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan hal yang paling manusia inginkan adalah sebuah kesuksesan, sukses dalam mengenyam pendidikan, sukses dalam karir, sukses dalam bermasyarakat, sukses dalam berkeluarga dan masih banyak sukses lain yang diinginkan manusia.

Ada pepatah mengatakan “berakit – rakit ke hulu, berenang – renang ke tepian”. Pepatah tersebut mengajarkan untuk bersakit – sakit, bekerja keras memeras keringat sebelum merasakan kemudahan dan kesuksesan karena kemudahan dan kesuksesan itu akan terasa benar – benar manis saat kita telah memberikan yang terbaik. Namun, di saat kerja keras itulah, akan selalu ada beberapa dari kita yang mencari “jalan pintas”.

Ruang Putih

Di ruang putih ini, terpampang jelas pada layar televisi sebuah kejadian yang tidak layak terjadi di negeri yang katanya sudah merdeka ini. Dan tidak cuma satu dua kali, tapi berkesinambungan tak henti. Mulai dari wajah pencuri, selingkuhan pasutri, pelaku pembunuh yang dicari, dan korban bunuh diri sampai pejabat negeri dan menteri yang korupsi.

Di ruang putih ini, mataku cuma duduk diam di tempatnya berada. Cuma bisa melihat apa yang kentara. Mata ini cuma menyalurkan gambaran yang tertera. Lalu, seolah mengejek pemahamanku yang di bawah rata – rata, otakku terus saja menyimpan apa yang tersalurkan padanya. Tanpa proses langsung saja masuk arsip tidak pakai pranala. Tak ayal hatiku yang mulai mati rasa. Yang melewatkan semua yang terjadi begitu saja. Seolah menjadi batu bata. Jangankan melihat sebuah cita, genggamanku tak lagi kuat untuk memenjara sebuah asa.

Sonata Hujan Petir dan Rembulan

bahkan tanpamu, rembulan
tetap akan terlihat bersinar
langit malam yang tercoreng oleh sekilat petir
tapi engkau hadir, rembulan

menodai sebuncah yang petir cipta
menawan karsa terbungkus dalam indah
menjebak waktu dalam sebuah bayang
merangkai manusia dalam abstraksi karsa

'kah dirimu datang, rembulan?
saat selimut gelap tergerai
kala sinar tak kuasa menerpa
waktu hati tenggelam hitam fana

Sonata Hujan, Petir, dan Rembulan
17 April 2011
20.59

Sonata Hitam Putih

Di mana Sang Putih berdiri?
saat tempat damai tiada lagi
terpenuhi abu - abu mencaci
ternilai niat yang tak lagi suci

Di mana Si Hitam terpatut?
karena sarkastik selalu mengikut
menghujan perih dalam hati yang berlutut
dalam sebilah pisau bernama rasa takut

Di mana sebuah tempat?
agar Sang Putih tegar dan kuat
dikitar Si Hitam terawang kuat
angan sepadan harmoni cuma tercuat

Di mana sebuah waktu?
teringat Si Hitam diam tergugu
terperi khidmat Sang Putih mendayu
merangkai separuh dunia terbisu

Di mana sebuah arti?
kala Si Hitam tulus terberi
bersih Sang Putih cuma mengasihi
memadu kasih dalam ruang hati

Sonata Hitam Putih
29 April 2011
08:59

Peduli

Pernah berpikir seperti ini? “Peduli itu sebenarnya apa sih?”

Saya pernah, dan bahkan sering, menyediakan waktu di antara fananya dunia hanya untuk berpikir kembali bagaimana sebuah bentuk peduli di dalam hati. Mungkin kita pernah merasakan, ada suatu rasa di dalam hati yang membuat kita tergerak untuk berbuat. Entah itu berbuat untuk diri kita sendiri atau untuk orang lain. Dan kita juga merasakan, saat kita telah berbuat untuk memuaskan rasa yang ada di dalam hati itu, kita akan merasakan suatu sensasi berbeda. Entah bagaimana menuliskannya dengan kata – kata. Pun, saat kita mengingkari rasa itu dan tidak berbuat sesuatu saat itu juga, kita juga pasti mengalami suatu perasaan kelu di dalam hati atau entah apa kata yang cocok menurut pribadi kita.

Ketika Bumi Mengeluh

Bumi mengeluh. Namun, bukan karena umurnya yang sudah berjuta – juta tahun. Bumi mengeluh. Beberapa tahun ini dia didaulat Allah untuk sedikit memberantakkan dirinya. Bumi patuh saja. Sudah beberapa kali dia membuat berantakan dirinya. Dia mengibaskan ombak di lautan yang tenang dan membuat samudera beriak dan beberapa kali timbul tsunami. Dia berulang – ulang menggoyang tubuhnya dan menciptakan gempa. Sering dia meniup angin yang tenang sehingga terjadi badai dan angin rebut. Berkali – kali juga dia bermain dengan gunung – gunung berapi di kulitnya, membuat mereka meletus di sana – sini. Bumi mengeluh karena capai memberantakkan dirinya? Ternyata tidak.

Bumi senang – senang saja memberantakkan dirinya. Dia merasa terlalu anteng beberapa milenium ini. Namun, dia mengeluhkan manusia. Manusia? Kenapa bumi mengeluhkan manusia?


Suatu hari bumi berkesempatan untuk berbincang – bincang dengan Allah.


"Ya Allah. Maafkan hamba-Mu ini jika hamba lancang. Namun, bolehkah hamba mengajukan pertanyaan kepada-Mu Rabbku Yang Maha Mengetahui segala sesuatu?"


MUAK

Jujur. Sebenarnya tulisan kali ini tidak saya buat dalam keadaan ingin menullis sesuatu atau ingin mencurahkan sesuatu.


Lebih tepatnya, saya sedang muak. Muak dengan keadaan lingkungan sekitar saya. Muak dengan lingkungan kampus. Muak dengan orang – orang di sekitar saya, dan mungkin anda yang membaca tulisan ini pun turut dalam "orang – orang" yang saya sebut di atas.


Ah sudahlah. Anda boleh tersinggung dan saya tidak mempermasalahkan apa yang anda rasakan. Toh apa anda peduli?


Anda mungkin akan bilang orang seperti saya ini kekanak – kanakan, childish, pembual, penggerutu, atau apalah yang cocok menurut anda. Lalu apa anda tidak? Apa anda merasa tidak pernah merasakan apa yang saya rasakan sekarang ini? Pasti anda tidak mau dikatakan munafik jadi pasti anda akan menjawab seperti ini : "tentu saya pernah, tapi dengan satu dan dua cara saya bisa mengatasi situasi seperti yang anda alami"


Anda tahu? Jawaban seperti itu lah yang membuat saya lebih muak lagi.

 
Anda mau tahu kenapa?


Selasa, 26 Oktober 2010

Sebuah Renungan Tentang Ilir Ilir

Lir ilir lir ilir tandure wus sumilir, tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar :
Kanjeng Sunan Ampel seakan-akan baru hari ini bertutur pada kita tentang kita. Tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri namun tak kunjung kita sanggup untuk mengerti. Sejak lima abad yang silam syair itu telah ia lantunkan dan tak ada jaminan kita telah paham. Padahal kata-kata beliau itu mengeja kehidupan kita sendiri alfa, beta, alif, ba', tha' kebingungan sejarah kita dari hari ke hari. Sejarah tentang sebuah negeri yang puncak kerusakannya terletak pada ketidak sanggupan para penghuninya untuk megakui betapa kerusakan itu sudah tidak terperi

Minggu, 24 Oktober 2010

anda manusia?

saya melihat bagaimana orang berucap dan bagaimana dia menghapus ucapannya itu layaknya tulisan di pasir yang terkikis buih ombak
saya melihat bagaimana orang mendengar dan bagaimana dia mengindahkan suara2 yang didengarnya layaknya air yang melewati pipa dan hanya menyisakan sebuah kelembaban

Senin, 19 Oktober 2009

pemikiran aneh

yah seperti biasa. .dengan keseharian yang lengang dan kerjaannya tidur tiduran membuat saya jadi inproduktif seperti biasa. .
tapi mungkin saat lengang seperti inilah saat yang paling pas untuk merenung, berpikir, dan menyadari juga mengintrospeksi apa apa yang ada dalam diri saya. .

sering berpikir kalo ternyata saya ini dikelilingi orang orang hebat. .mulai dari satria, akbar, ipang, inung, isnan, maola, gilig, panji, arfan, thoriq, ajied, guntoro dan masih banyak lagi. .
kadang mereka mengajarkan gimana cara berpikir dan cara melihat dunia ini dari segi logika manusia, seperti satria. .jujur aja ni orang sebenarnya sangat logis *selogis-logisnya logis dah klo mau dibilang. .waktu melihat dan merasakan aura dari tindaktanduknya orang pun langsung ngerti klo satria ini tipe pemimpin. .sering juga aku tukar pikiran sama satria. .dan hasilnya pun nggak ngecewain. .pikiranku jadi lebih terbuka dari sebelumnya. .dan kadang malah nambah ilmu juga ehehe