***
"Mas Sya'ban!!!"
DEG!Hampir saja aku jatuh dari tempatku duduk, tempat favoritku saat melamun di atap, di pinggir atap yang menghadap ke tempat parkir SMA 1. Kucari sumber suara itu, dan ternyata dari tempat parkir. Di sana seorang akhwat berdiri sambil berkacak pinggang.
"Ngelamun lagi nih, Mas?" tanya akhwat itu
Dengan jilbab lebar dan besar dan tak lupa seragam khas SMA 1, Wiji berdiri di depan gang kecil menuju masjid sambil memandang ke arahku.
"Woi, ditanyain juga. Malah diem lagi. Hampir jatuh tuh tadi. Makanya kalo ngelamun jangan
kebablasan."
"Enak aja. Yang bikin aku hampir jatuh ya kamu itu. Orang lagi enak duduk malah diteriakin."
Wiji ini anak kelas X. Orangnya memang agamis tapi kelakuannya bisa dibilang tomboi juga. Walaupun tomboy, entah kenapa aku bisa melihat keanggunan dari akhwat ini. Ck, berpikir apa aku ini? "Jaga hati boy!" kataku pada diriku sendiri. Tapi kadang aku juga berpikir, kalau aku diberi kesempatan keliling dunia, orang aneh jenis apalagi yang akan kutemui. Di sekolah ini saja sudah banyak, bagaimana kalau di luar sana?
"Ngapain tadi kamu manggil, Wij?" tanyaku
"Nggak ada apa – apa sih, Mas. Cuma iseng aja nggangguin orang yang lagi ngelamun, hehe." balasnya sambil terkekeh.
"Weleh, ya udah. Hus hus sono pergi pergi. Ganggu orang aja."
"Yeee, malah ngusir nih. Ya udah, hmph." balasnya sambil memalingkan muka dan menghilang ke dalam gang.