Senin, 29 Agustus 2011

Satu Hari Memori

Subuh ini aku terbangun dengan senyum bulan menggantung pada selimut hitam
Mengiangkanku akan seulas senyummu saat kita bercengkerama dulu
Ya, senyuman sederhana di kala itu
Dan setiap gelak tawa yang terhambur terciprat lelucon yang kau lemparkan
Aku pun tersenyum

Pagi ini aku tertegun dengan rindang pohon yang kulalui di sudut jalan
Membawa memori kembali ke tempat itu
Tempat yang menyejukkan, tempat kita bersama, tempat kita saling berbagi dalam peduli
Dan kau tahu?
Aku rindu

Terik matahari sangat membakar sesiang ini, dan sama juga dengan siang – siang yang kita lalui dulu
Membuncah dalam kalbu setiap indah detik waktu yang berlalu
Sesiang itu, saat bersama di kantin, di lapbas, di sinom, di sekolah
Ya, sesiang yang selalu bermakna buatku karena kau selalu ada
Dan aku kembali harus berjalan

Sore ini, aku kembali lagi ke tempat yang buatku adalah rumah keduaku
Yah, mungkin hanya ingin melepas rindu pada suasana dan waktu yang telah berlalu
Dan kau pun ada di tempat ini, apakah tujuan kita sama?
Apakah sama rindu yang kita rasa?
Aku tak tahu, yang jelas aku selalu senang di kala kita bertemu
Mungkin sesaat bernostalgia dengan masa lalu apa perlu?

Aku tak tahu
Karena jelas buatku, waktu bersamamu adalah layaknya emas di kala senja
Layaknya tetes embun yang sejuk di pagi hari
Layaknya rindang pohon yang menaungi di kala siang
Dan seindah rembulan yang selalu bersinar pada waktu malam

Kau tahu?
Karena kau adalah sahabatku

Selasa, 28 Juni 2011

Jodoh Itu . . . . .

“Terus, kalau misalnya nggak jadi sama dia, kamu bakal gimana, Much?”

Entah sudah berapa kali pertanyaan itu terlontar dari teman – temanku. Seperti biasa, pertanyaan seputar akhwat idaman untuk seorang pendamping hidup. Dan aku sendiri pun kadang bingung, teman – teman sering menjadikanku sebagai tempat curhat masalah kegalauan hati karena ada akhwat yang memenuhi pikiran, padahal aku pun sering mengalami masalah yang sama. Apa mereka berpikir bahwa aku ini sudah mantap dengan pilihanku? Padahal aku sama sekali tidak mengatakan akan segera mengkhitbah akhwat manapun. Ya ampun.

“Wah, kok tanyanya bakalan gimana? Jelas dong, ikhlaskan saja. Hlawong sudah jadi punyanya orang lain kok. Masa’ mau diminta?” jawabku sambil lalu saja dan kuambil majalah terbitan Rohis SMA bulan ini dari rak masjid sekolah di dekatku.

Senin, 27 Juni 2011

Dalam Prasangka

Kadang kau salah
Mengartikan satu wajah
Di kacamu terpancar sebuah lelah
Isi hati sebenar tabah


Kadang kau ragu
Sangka tetes embun itu ciu
Terbiaskan satu sebuah ambigu
Membunga nista di buket rancu


Kadang kau benar
Tuk membanjir lesung dalam nanar
Melayar agung suci berbinar
Karna kargo benar terkumpul tak buyar

Selasa, 14 Juni 2011

Di Gerbang Terakhir

Rangkanya remuk. Dan dagingnya tidak lagi mencerminkan sebuah jalinan otot yang biasa terlihat saat seorang manusia bergerak. Sungai merah mengalir dari kepalanya, entah darimana hulu sungai itu. Sungai itu sangat deras. Tak pelak, parasnya yang tertera tidak lagi sama seperti foto pada tanda pengenal. Dia terbatuk. Mulutunya terisikan liur bercampur darah. Bagi orang lain yang melihat, darah itu tidak akan diketahui asal – usulnya. Namun, diat tahu organ dalam yang pecah adalah penyebab darah itu. Entah hati, lambung, ginjal, atau usus, tapi dia jelas masih merasakan denyut jantung dalam setiap tarikan napasnya yang semakin melemah.

Dia terbatuk lagi. Megap – megap, dia merasakan darah di mulutnya mulai masuk lagi ke kerongkongan dan tenggorokan. Dia tahu waktunya sudah dekat. Dan dia melihat tangan kanannya. Namun, bukan karena ingin dia melakukan itu. Lehernya terasa sangat berat, bahkan hanya untuk sekedar digerakkan untuk menoleh saja. Kepala itu sudah terkulai, dan mata itu memang mengarah ke tangan kanan miliknya. Dia melihat tangan kanannya. Bentuk tangan itu tidak lagi pada wajar. Bagian siku ke bawah sudah berbalik kea rah yang tidak seharusnya. Dia melihat sebuah luka besar. Luka itu dengan tegar menganga, memperlihatkan tulang putihnya yang tercemar merah darah.

Minggu, 12 Juni 2011

Bahwa

Bahwa di dalam diriku
Aku selalu lupa melihat
Sajak – sajak kosong
Terlupa telah terbuang Cuma


Bahwa di sekitar aku
Tidak lagi pernah mendengar
Sentuhan jiwa yang hangat
Cuma ingin yang terkotori


Bahwa sebuah dunia tempatku
Aku tidak lagi merasa
Kebaikan – kebaikan terikat
Tinggal ceceran harapan semu