Seharusnya sajak ini
aku tulis ‘tuk melipur lara ibu
yang terluka, berdarah
oleh pisau – pisau tamak
Dan rima – rima ini
Seharusnya menjadi obat
Tuk sakit ibu, yang jamak
Bergantian mampir, pergi tak permisi
Pun kata – kata ini
Kuat pun tidak membendung air mata
Oh ibu, engkau yang begitu lara
Tercabik, termaki, terhina
Dan seharusnya aku ini
Malu, malu karena tak mampu
Melindungi, merawat, melipurmu ibu
Aku ini hina, aku tak tahu
Aku Hina dan Tak Tahu
10 November 2011
09:08
Hari ini hari pahlawan, dan aku masih tidak tahu cara memaknai dan apa makna pahlawan. Sampahkah? Mayatkah? Atau Cuma orang – orang bodoh yag berani karena naïf? Aku tak tahu
Satu milyar titik air menghujam bumi
Dengan berkah
Pada daun tanpa urat
Pada ranting sekarat, meregang mati hidup segan
Pada batang kering, kosong tak brarti
Dan bumi, pucat, seakan jalinan hidup telah dipecat
Satu milyar titik air
Mereka lewat satu jalan panjang
Berliku, menyimpang, bertransformasi
Dan membumbung, ke tirai biru
Satu milyar titik air menutup tirai kelabu
Dengan berkah, dengan indah
Lalu mencipta pelangi
Pada kanvas indah angkasa
Satu Milyar Titik Air
30 September 2011
13:45
Apa perlu manusia?
Kubawakan lilin - lilin kepadamu
Redup, menyala dengan setali bara
Lalu lenyap, membawa gelap dalam segenggam semu
Apa perlu manusia?
Kuhadirkan kau pada hutan – hutan merah
Layu, mengharap sewelas dari fana
Dan akar pun tenggelam daun, menjadi tanah
Apa perlu manusia?
Kuberikan tanganmu waktu
Tak akan kau rasa sebuah bernama usia
Dan matamu bersaksi atas kefanaan yang terbuang, semu
Apa perlu manusia?
Kudatangkan kau pada saudara – saudara sekarat
Yang merengek, menangis, meminta pada dunia
Dan yang bersyukur, merindu pada Cinta Sejati, pada akhirat
Apa perlu manusia?
Kuhadiahi kau satu bernama abadi
Dan sesekali kau merasa senang atas fana
Lalu dunia, mempuisikan kau dalam sepi
Apa perlu manusia?
Aku sendiri menyapamu dalam keseharian
Mengingatkanmu, menasihatimu, memelukmu sebentar saja
Bahwa aku merindumu, dalam dekapan kafan
Pertanyaan Sang Maut
3 Oktober 2011
22:40
Lembar layar terkembang
Mengantar sunyi dengan sentuhan lembut
Kala tirai kelam menggantung langit
Membekap dingin tanpa sebuah welas
Dan pada ombak hitam
Tersimpan padanya sejuta rahasia dunia
Apakah layar gentar
Pada penyimpan rahasia dia bergantung
Kala jaring terbentang
Menangkap dingin pada hitam tak berujung
Berharap pada penyimpan rahasia
Sepercik nikmat dari kubangan dunia
Lalu sang perentang terdiam
Terpekur di dalam sebuah sujud
Mengharap berkah dari sepercik
Untuk hidup
Sang Perentang
7 September 2011
17:11
di mana sandangku?
lupakah aku memakai satu?
pun dera tak berwelas
memutar lagi yang terbias
di mana sandangku?
hujam kejam idiom kaku
meluka kalbu tak berparas
dan tercecer, hapuslah bekas
di mana sandangku?
seperti penjaja saja aku
pada hati - hati ganas
bernafsu selaksa tetas
di mana sandangku?
di mana hidupku?
sudah tak ada berbelas?
atau cuma tak berbalas?
Di Mana Sandangku?
11 September 2011
11:50